Berita Kepada Bapak

formasi utuh
Bapak, hari ini 25 November 2008 genap sudah 16 tahun engkau memenuhi panggilanNya. Banyak sudah peristiwa yang kami alami selama 16 tahun ini, pak. Istrimu, yang juga ibuku, usianya sudah melebihi usiamu di dunia, 12 tahun lebih tua pak. Bapak, beberapa bulan ini ada beberapa peristiwa yang mungkin saja kau melihatnya dari alam sana, meskipun demikian aku tetap ingin bercerita kepadamu pak.
Beberapa bulan yang lalu, Ibuku yang juga istrimu itu, kaki kanannya dikecup ular di kamar mandi yang kau bangunkan untuk kami. Kakinya bengkak pak, sampai lutut kaki, waktu kejadian aku sedang di tempat kerjaku, di Madrasah. Alhamdulillah ada adik, dan adik perempuanmu yang bisa mengatasi permasalahan itu. Dibawanyalah ibuku ke RS Bayangkara (sekarang di Aspol Kabluk dibangun RS lho pak, tapi Aspolnya digusur), di situ beliau di operasi kecil. Tapi tetap saja masih bengkak sampai kurang lebih 3 pekan. Untuk alternatifnya aku bawa ibu ke pawang ular agar bisa diatasi. Alhamdulillah perlahan tapi pasti, sakit itu sembuh. Beliau ibuku yang juga istrimu itu sekarang sudah mulai berkurang daya tahan tubuhnya, sekalipun usianya baru berkepala lima. Baru kurang lebih dua bulan yang lalu kami mendampingi ibu untuk operasi katarak pak. Alhamdulillah pula semuanya lancar atas berkah dan rahmatNya. Aku dan adik harus mampu banyak bersabar untuk semakin menyayanginya, mengerti akan apa yang ibu kehendaki. Ibuku itu benar – benar ibu yang tulus pak, sangat sayang pada anak – anakmu ini, bahkan sangat memanjakan kami. Sedikit percikan masalah dengan beliau adalah bumbu – bumbu kehidupan kami agar lebih terasa menyenangkan dan menggairahkan.
Kabar yang juga mungkin membahagiakanmu pak, adalah putrimu yang kau tinggalkan ketika dia berusia 5,5 tahun, sekarang sudah beranjak dewasa. Kemarin tanggal 10 November, aku dan ibu mendampinginya wisuda pendidikan S1 matematikanya di sebuah Institut di kota kita. Sekarang dia sudah bergelar SPd pak, melebihi aku yang tahun 2004 baru berhasil menyelesaikan D3 Teknik Komputerku. Aku terharu sekali pak, tanpa dirimu, putrimu itu berhasil menjalani studinya dengan cukup baik. Untuk menyembunyikan rasa haru itu, waktu acara wisuda aku menyengaja keluar untuk membereskan suatu persoalan yang waktu itu cukup membuatku dalam kejaran deadline. Jadi praktis aku hanya mengantar kemudian menjemput Ibuku dan putrimu pak (maklum to pak, kau kan tau klo aku tu cengeng). Oya Pak, alhamdulillahnya kami bisa meminjam alat tranportasi dari adik perempuanmu yang tinggal di gang sebelah sehingga cukup untuk mengangkut kita bertiga bersama-sama.
bareng b
Putrimu itu benar – benar mampu untuk mandiri pak, kegiatannya sehari – hari benar – benar padat, ketrampilannya banyak pak, dari mengajar privat, membekam, hingga mengakupuntur. Setiap hari dia juga yang mengelola lauk pauk di rumah pak. Masakannya nyaman di lidah kami. Hasilnya berkegiatan bahkan terkadang melebihi hasilku mencari sedikit biaya melanjutkan studiku. Kau patut berbangga dengannya pak.
Sedangkan aku pak, anakmu yang sulung ini, satu – satunya anak laki – lakimu, yang ketika kau tinggalkan berangkat memenuhi panggilanNya, sedang berjuang untuk lulus Sekolah Dasar, selama ini menjalani hidup dengan cukup lancar. Memang berbagai permasalahan ikut serta dalam menghadapi kehidupan ini. Alhamdulillah aku mampu menempuh studi D3 dengan cukup baik. Syukurnya adalah aku tidak terlalu membebankan ongkos studiku kepada Ibu, pak, sebab waktu aku menempuh studi itu, aku telah mengajar mata pelajaran komputer di suatu SMA. Selesai menempuh D3, aku melanjutkan studi AKTA Mengajar di UNNES pak, waktunya cuma setahun tetapi juga penuh dengan perjuangan. Alhamdulillah ada keponakanmu dari istrimu yang meminjamkan sebuah BMW (Bebek Merah Warna – nya lho pak, jangan salah! He13x) untuk alat transportasiku dari rumah ke kampus yang cukup jauh. Oya pak dimasa akhir studi AKTA ini usiaku mulai beranjak ke-25, aku ingat waktu usiaku 19 tahun aku ada cita – cita untuk ibda’ Nabi kita Muhammad SAW, apa coba coba pak? Bener pak, aku bermaksud untuk menikah di usia itu. Untuk menuju cita – cita itu aku ada seseorang perempuan yang menjadi target untuk jadi calon menantumu. Ini benar – benar serius pak, niatan yang waktu itu boleh dibilang sangat besar untuk ibadah. Namun sayang pak, usahaku kali ini belum berhasil, Alloh masih sayang denganku, dengan memberikan lebih banyak kesempatan untuk memilih yang terbaik menurutNya. Aku merasa harus instropeksi diri atas segala apa yang aku ikhtiarkan pak. Aku merasa terlalu memaksakan diri dan berada di situasi dan kondisi yang tidak tepat. Namun aku merasa Alloh menggantinya dengan rizki yang memang sangat aku butuhkan untuk mobilitasku dalam menjalani kegiatan sehari – hari. Masih ingatkah kau pak dengan amanah kepadaku untuk belajar menabung. Tabungan yang waktu itu kita bersama – sama setor waktu pertama kali mendaftar, nomor rekeningnya keluar diundian pak, aku waktu itu mendapatkan sebuah motor pak, aku sangat haru pak, menangis yang jadi kebiasaanku jika terharu sudah pasti aku lakukan sambil sujud syukur padaNya yang bener – bener sayang dan mengerti akan apa yang terbaik untukku (cengeng banget ya pak..). Satu hal lagi, waktu itu pula, aku baru pindah dari tempat kerja yang lama ke tempat kerja yang baru pak, yaitu dari SMA ke Madrasah. Di tempat yang baru ini aku merasakan banyak tantangan untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi manusia lain.
Bapakku yang kusayangi dan makin kurindukan, selesai AKTA aku langsung lanjut studi S1 dengan menyeberang jurusan, dari Teknik Komputer ke Teknik Informatika. Sungguh banyak SKS yang harus aku tempuh untuk menyelesaikannya, semua aku coba jalani dengan semangat dan banyak bersabar, tentunya doa juga lho pak. Sekarang ini sudah mulai akhir – akhir studi pak, aku harus menyelesaikan skripsiku yang boleh kubilang cukup unik tapi penuh tantangan (kebiasanku to pak, klo aku tuh pengennya lain daripada yang lain, kau tau kan karakterku). Di masa ini juga aku kenal dengan seorang perempuan pak, lagi – lagi ini kutujukan seikhlashnya untuk memenuhi ½ DienNya (kali aja yang ini bisa jadi menantumu, ya to pak). Sampai saat ini berarti sudah kurang lebih 5 bulan berjalan. Kami berusaha saling mengenal pak, aku berusaha menjalaninya dengan sangat wajar, tidak terlalu dalam juga tidak terlalu menyepelekan. Pokoknya kuusahakan untuk sesuai dengan tuntunannNya. Di bulan yang ke lima inilah dengan agak berat hati aku berkeputusan harus melanjutkan lagi pengembaraanku mencari teman sejati memperoleh ½ Dien, sebab perempuan itu merasa sejak awal tidak memperoleh rasa ketertarikan denganku sebagai calon pendamping hidupnya. Sungguh sangat simple sekali pak, dan sekarang dia telah menemukan seseorang yang menurutnya ada rasa ketertarikan sehingga dia berani untuk menjalani komitmen menuju pernikahan, itupun hanya dalam waktu yang lebih singkat daripada aku kenal dengannya. Alloh Akbar! Alloh Maha Pembolak – balik hati makhlukNya. Fyuuh… capek juga pak, namun memang beginilah hidup pak, harus dijalani dengan Ikhtiar yang benar, penuh kesabaran, dan ketawakalan. Engkau mungkin lebih berpengalaman pak dalam hal ini, namun sayang aku tidak berkesempatan untuk memperolehnya dari dirimu langsung pak. Aku pun yakin pengelanaanku dalam memperoleh ½ DienNya pasti akan berakhir. Entah berakhir dengan memenuhi panggilanNya atau dengan kesempatan untuk memasuki gerbang tantangan hidup berumahtangga sehingga meneruskan keturunanmu yang selalu menegakkan panji – panji Agama Alloh SWT.
Bapakku yang sangat sayang denganku, terakhir aku mengucapkan banyak terimakasih yang tak terhingga. Selama hidupmu bersama kami, kau telah berjuang keras dengan tak menghiraukan kondisi dirimu untuk kehidupan kami semasa itu. Usahamu itu berimbas pada hari ini pak, dimana kami masih dapat menikmatinya dengan penuh rasa syukur. Tanpa kehadiranmu saat itu, proses kehidupan kami tidak akan sebaik ini, tidak akan seindah ini. Aku anak laki – lakimu yang masih memiliki tanggungjawab sebagai wali dari putrimu ini, hanya bisa berdoa, agar engkau bersamaNya di tempat yang terindah, terbaik, dan penuh rahmat kasih sayangNya. Semoga segala ibadahmu diterimaNya segala kekhilafanmu diampunkanNya. Yakinlah, engkau masih memiliki tabungan akhirat, yaitu anak – anakmu yang selalu berusaha untuk Sholih dan Sholiha.
Dalam tangis keharuan kukabarkan semua ini kepadamu Bapakku yang kurindu…..
Allohhummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu….

